Pengaruh Rasio Profitabilitas, Earning Per Share dan Nilai Tukar terhadap Harga Saham Perbankan Periode 2008 – 2012

PROPOSAL SKRIPSI

Diajukan guna melengkapi syarat-syarat untuk mencapai

gelar Sarjana Ekonomi Jurusan Akuntansi Jenjang Strata Satu

Fakultas Ekonomi Universitas Gunadarma

 

Disusun Oleh :

                                                                               Nama                               : Tirsa Virgina Nur Hadist

                                                                               NPM                                : 26210908

                                                                               Kelas                                : 4EB10

                                                                              Jurusan / Jenjang         : Akuntansi / S1

FAKULTAS EKONOMI

UNIVERSITAS GUNADARMA

DEPOK

2013

 

 

BAB I

PENDAHULUAN

 

      1.1.      Latar Belakang Masalah

Menjelang akhir triwulan III – 2008 tepatnya bulan Agustus 2008, perekonomian dunia dihadapkan pada suatu babak baru yaitu runtuhnya stabilitas ekonomi global, dimana pada saat itu salah satu bank terbesar Perancis BNP Paribas mengumumkan pembekuan beberapa sekuritas yang terkait dengan kredit perumahan berisiko tinggi AS (subprime mortgage). Pembekuan ini akhirnya merambat keseluruh dunia, hingga penghujung triwulan III – 2008. Intensitas krisis semakin besar dengan kebangkrutan bank investasi terbesar AS Lehman Brother yang diikuti oleh kesulitan keuangan seperti di AS, Eropa dan Jepang. (Bank Indonesia)

Sektor perbankan termasuk sektor yang ikut terkena dampak krisis global. Di berbagai negara, aliran dana dan kredit terhenti, kegiatan transaksi sehari – hari terganggu. Aliran dana keluar (capital outflow) terjadi besar – besaran, yang membuat likuiditas di dalam negeri berkurang dan bank – bank kesulitan mengelola arus dananya. Sumber kerugian bank yang lain adalah transaksi valuta asing (valas) terutama dollar AS. Melemahnya nilai tukar rupiah menyebabkan bank – bank harus membayar utang valuta yang tinggi.

Kondisi tersebut mengakibatkan berkurangnya kepercayaan masyarakat terhadap industri perbankan. Fenomena ini berakibat pada turunnya minat investor untuk membeli saham perbankan. Konsekuensi yang terjadi harga saham perbankan pengalami penurunan. (Zulbekti, 2010). Krisis global menunjukan adanya hubungan antara kondisi markroekonomi terhadap kinerja saham.

Investasi dalam saham merupakan jenis investasi yang cukup banyak di minati oleh investor (Hartono, 2008). Harga saham sering dipertimbangkan oleh investor dalam pengambilan keputusan investasi. Harga saham cenderung mengalami kenaikan dalam jangka pendek akan memberikan return saham berupa capital gain, sedangkan dalam jangka panjang berarti semakin membaik kinerja keuangan perusahaan sehingga memungkinkan investor untuk memperoleh deviden.

Faktor rasional yang mempengaruhi keputusan calon investor dalam membeli saham, pada umumnya berkaitan dengan sesuatu yang disebut faktor fundamental. Faktor fundamental sangat kompleks dan luas cakupannya, meliputi faktor fundamental makro yang berada di luar kendali perusahaan dan faktor fundamental mikro yang berada dalam kendali perusahaan (Syahib, 2000).

Faktor fundamental makro dalam istilah analisis pasar modal disebut dengan faktor fundamental negara. Faktor fundamental makro meliputi : (1) ekonomi, (2) sosial, budaya, demografi dan lingkungan, (3) kekuasaan politik, pemerintah dan hukum, (4) teknologi dan (5) pesaing (David, 2003).

Dalam perekonomian suatu Negara itu biasanya dilihat dari kurs Negara itu terhadap kurs valas. Apabila kurs menguat, maka secara tidak langsung harga saham juga akan naik, tapi bila kurs itu melemah maka harga saham juga akan turun. Oleh karena itu, pada penelitian ini, penulis membatasi pada faktor fundamental makroekonomi dengan indikator kurs. Karena faktor makroekonomi merupakan faktor yang paling mendapatkan perhatian dari para pelaku pasar modal. Inflasi, tingkat bunga, kurs dan pertumbuhan ekonomi memiliki kecendrungan untuk mempengaruhi pasar modal baik secara langsung maupun tidak langsung.

Faktor fundamental mikro dalam analisis pasar modal sering disebut dengan faktor fundamental perusahaan. Faktor fundamental mikro dapat dikelompokan dalam faktor kebijakan perusahaan dan faktor kinerja keuangan. Dalam hal ini di gambarkan oleh penilaian atas rasio keuangan. Pada penelilitian ini menggunakan Rasio Profitabilitas dan Rasio Pasar. Rasio Profitabilitas untuk menilai kemampuan perusahaan dalam mencari keuntungan. Rasio ini juga memberikan ukuran tingkat efektivitas manajemen suatu perusahaan. Hal ini ditunjukan oleh laba yang dihasilkan dari penjualan dan pendapatan investasi. Sedangkan Rasio Pasar merupakan indikator untuk mengukur mahal murahnya suatu saham, serta memberikan informasi seberapa besar investor atau para pemegang saham menghargai perusahaan.

Rasio Profitabilitas meliputi Return On Assets (ROA), Return On Equity (ROE), Net Profit Margin (NPM). Return On Assets (ROA) menunjukan efektivitas perusahaan dalam mengelola aktiva baik dari modal sendiri maupun dari modal pinjaman, investor akan melihat seberapa efektif suatu perusahaan dalam mengelola assets. Return On Equity (ROE) rasio ini menunjukan daya untuk menghasilkan laba atas investasi berdasarakan nilai buku para pemegang saham. Net Profit Margin (NPM) merupakan perbandingan antara laba bersih dengan penjualan.

Sedangkan rasio pasar meliputi Earning Per Share. Menurut (Darmadji,2006) Earning Per Share merupakan rasio yang menunjukan seberapa besar keuntungan (return) yang diperoleh investor atau pemegang saham per lembar. Earning Per Share merupakan bentuk pemberian keuntungan yang diberikan kepada para pemegang saham dari setiap lembar saham yang dimiliki.

Menurut penelitian sebelumnya, Hartono (2008) “Analisis Hubungan Profitabilitas Dengan Pergerakan Harga Saham pada Sektor Usaha Perbankan di Bursa Efek Indonesia”, ternyata hanya ROE saja yang memberikan pengaruh yang cukup signifikan terhadap pergerakan harga saham sedangkan ROA dan NPM tidak memberikan pengaruh yang signifikan terhadap pergerakan harga saham. Sedangkan penelitian yang di lakukan oleh Indah Nurmalsari (2009) “Analisis Pengaruh Rasio Profitabilitas terhadap Harga Saham Emiten LQ45 yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia”, ternyata hasil penelitian menunjukan bahwa ROA, Tingkat Suku Bunga dan EPS berpengaruh terhadap harga saham sedangkan ROI, NPM, dan ROE berpengaruh secara bersama – sama terhadap harga saham. Menurut hasil penelitian Yopi Atul (2012) “Pengaruh Inflasi, Nilai Tukar dan Tingkat Suku Bunga SBI terhadap Harga Saham Perbankan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI)” menunjukan bahwa dari ketiga variabel tersebut hanya Nilai Tukar dan Tingkat Suku Bunga SBI yang berpengaruh terhadap Harga Saham Perbankan.

Berdasarkan uraian yang telah dikemukakan sebelumnya maka dilakukan penelitian dengan judul : “Pengaruh Rasio Profitabilitas, Earning Per Share dan Nilai Tukar terhadap Harga Saham Perbankan Periode 2008 – 2012”

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian latar belakang diatas maka pokok permasalahan dalam penelitian ini adalah :

  1. Apakah Rasio Profitabilitas, Earning Per Share dan Nilai Tukar berpengaruh secara parsial terhadap Harga Saham Perbankan ?
  2. Apakah Rasio Profitabilitas, Earning Per Share dan Nilai Tukar berpengaruh secara simultan terhadap Harga Saham Perbankan ?

1.3 Tujuan Penelitian

Berdasarkan permasalahan dalam penelitian ini, maka tujuan dari penelitian ini adalah sebagai berikut :

Untuk mengetahui pengaruh Rasio Profitabilitas, Earning Per Share dan Nilai Tukar terhadap Harga Saham Perbankan.

 

 

 

BAB II

LANDASAN TEORI

 

2.1.      Kerangka Teori

2.1.1.         Pasar modal

Perkembangan pasar modal merupakan salah satu tolak ukur  untuk melihat perkembangan suatu negara. Pasar modal adalah sarana yang efektif untuk mempercepat akumulasi dana bagi pembiayaan pembangunan melalui mekanisme pengumpulan dana dari masyarakat dan menyalurkan dana tersebut ke berbagai sektor yang produktif. Dalam fungsi ekonominya pasar modal menyediakan fasilitas untuk memindahkan dana dari pihak yang kelebihan dana kepada pihak yang kekurangan dana.

Pasar modal secara umum tempat bertemunya para penjual dan pembeli untuk melakukan transaksi dalam rangka memperoleh modal. (Kasmir, 2004).

Undang – undang pasar modal no. 8 tahun 1995 memberikan pengertian yang lebih spesifik tentang pasar modal yaitu kegiatan yang bersangkutan dengan penawaran umum dan perdagangan efek, perusahaan public yang berkaitan dengan efek yang diterbitkannya serta lembaga dan profesi yang berkaitan dengan efek. (Harsono, 2013)

Pengertian pasar modal juga dapat diartikan sebagai sebuah wahana yang mempertemukan pihak yang membutuhkan dana dengan pihak yang menyediakan dana sesuai dengan aturan yang ditetapkan oleh lembaga dan profesi yang berkaitan dengan efek.

2.1.1.1.Jenis Pasar Modal

      Menurut (Peni Sawitri dan Eko Hartanto, 2007)

  1. Pasar perdana adalah penjualan perdana efek atau penjualan efek oleh perusahaan yang menerbitkan efek sebelum efek tersebut dijual melalui bursa efek. Pada pasar perdana efek di jual dengan harga emisi, sehingga perusahaan yang menerbitkan emisi hanya memperoleh dana dari penjualan tersebut.
  2. Pasar sekunder adalah penjualan efek setelah penjualan pada pasar perdana berakhir. Pada pasar ini harga efek ditentukan berdasarkan kurs efek tersebut. Naik turunnya kurs suatu efek ditentukan oleh gaya tarik menarik antara permintaan dan penawaran efek tersebut.
  3. Bursa pararel adalah merupakan pelengkap bursa efek yang ada. Bagi perusahaan yang menerbitkan efek yang akan menjual efeknya melalui bursa dapat dilakukan melalui bursa pararel. Tidak semua efek yang diterbitkan oleh perusahaan yang go public dapat menjual sahamnya dibursa efek.

2.1.1.2. Manfaat keberadaan Pasar Modal

Beberapa Manfaat pasar modal menurut (Harsono,2013) antara lain :

  1. Manfaat bagi perusahaan atau emiten

Bagi para emiten atau perusahaan yang melaksanakan penawaran umum maupun investasi langsung (private placement), keberadaan pasar modal akan memberikan manfaat antara lain berupa :

  1. Kemudahan dalam memperoleh dana pengembangan usaha.
  2. Sabagai daya dorong untuk mengelola perusahaan secara lebih professional, transparan, efisien, profit oriented, dan cara beretika dengan penerapan good corporate governance karena anjuan otoritas pasar modal dalam pengawasan public, khususnya masyarakat investor.
  3. Manfaat bagi investor

Bagi para investor, keberadaan pasar modal akan memberikan manfaat seperti :

  1. Memberikan keluasaan alternatif investasi
  2. Penyebaran kepemilikan perusahaan secara luas kepada masyarakat.
  3. Memberikan potensi keuntungan atau return dengan kemungkinan risiko yang melekat pada masing – masing instrumen investasi yang dipilihnya.
  4. Manfaat bagi sistem ekonomi

Selain bermanfaat langsung bagi emiten dan investor seperti yang telah di jelaskan sebelumnya, keberadaan pasar modal juga memberikan dampak luas bagi sistem ekonomi nasional yang ada, antara lain :

  1. Dengan kemudahan perusahaan untuk memperoleh dana dari investor, akan mendorong kontribusi mereka dalam memajukan pertumbuhan ekonomi nasional, menciptakan kesempatan kerja, dan meningkatkan pendapatan pemerintah khususnya dari sector perpajakan.
  2. Mendorong laju investasi
  3. Memberikan indikasi perkembangan perekonomian suatu Negara.

2.1.2.      Saham

2.1.2.1.      Pengertian Saham

Saham didefinisikan sebagai bukti atau sertifikat kepemilikan seseorang atau suatu badan terhadap perusahaan yang menerbitkan sekuritas tersebut, yang dapat pula diartikan sebagai keikutsertaan investor sebagai pemodal pada suatu perusahaan, sehingga memiliki hak klaim atas penghasilan dan aktiva perusahaan. (Harsono, 2013)

2.1.3.            Harga Saham

Menurut (Anoraga,2001) mendefinisikan harga saham sebagai harga jual saham sebagai konsekuensi dari posisi tawar antara penjual dan pembeli saham, sehingga nilai pasar menunjukan fluktuasi dari harga saham. Sedangkan market value perusahaan kaitannya dengan laporan keungan yang di uraikan oleh teori pasar efisien. Para pemodal tentunya termotivasi untuk melakukan investasi pada suatu instrument yang diinginkan, dengan harapan untuk mendapatkan kembalian investasi yang sesuai.

Semakin tinggi harga saham maka semakin tinggi juga kekayaan pemegang saham. Harga saham dapat di bedakan menjadi beberapa macam (Anoraga, 2001) yaitu :

  1. Nominal price

Yaitu nilai yang ditetapkan oleh emiten untuk menilai setiap lembar saham yang dikeluarkan.

  1. Initial price

Merupakan harga sebelum saham di cetakan di bursa efek, setelah bernegosiasi dengan peminjam emisi (underwriter), akan di jual kepada masyarakat, setelah itu penjamin emisi juga membuka counter untuk melakukan penjualan saham emiten.

  1. Market price

Yaitu harga jual dari investor yang satu dengan investor yang lain. Harga ini terjadi setelah saham tersebut tercatat di Bursa Efek Indonesia dalam transaksi ini tidak ada lagi melibatkan emiten dan penjamin saham.

2.1.4.      Profitabilits

2.1.4.1.         Pengertian Profitabilitas

           `      Profitabilitas merupakan alat yang digunakan untuk menganalisis kinerja manajemen, tingkat profitabilitas akan menggambarkan posisi laba perushaan. Para investor di pasar modal sangat memperhatikan kemampuan perusahaan dalam menghasilkan dan meningkatkan laba, hal ini merupakan daya tarik bagi investor dalam melakukan jual beli saham, oleh karena itu manajemen harus mampu memenuhi target yang telah ditetapkan.

                    Menurut (Kasmir, 2008), “Rasio profitabilas merupakan rasio untuk menilai kemampuan perusahaan dalam mencari keuntungan”. Rasio ini juga memberikan ukuran tingkat efektifitas manajemen suatu perusahaan. Hal ini di tunjukan oleh laba yang dihasilkan dari penjualan dan pendapatan investasi. Pada dasarnya penggunaan rasio ini yakni menunjukan tingkat efisiensi suatu perusahaan.

2.1.4.2.         Tujuan dan manfaat Rasio Profitabilitas

         Manfaat rasio profitabilatas tidak terbatas hanya pada pemilik usaha atau manajemen saja, tetapi juga bagi pihak luar perusahaan, terutama pihak – pihak yang memiliki hubungan atau kepentingan dengan perusahaan.

(Kasmir, 2008), menerangkat bahwa tujuan dan manfaat penggunaan rasio profitabilitas bagi perusahaan maupun bagi pihak luar perusahaan yakni :

  1. Untuk mengukur atau menghitung laba yang diperoleh perusahaan dalam satu periode tertentu
  2. Untuk menilai posisi laba perusahaan tahun sebelumnya dengan tahun sekarang
  3. Untuk menilai perkembangan laba dari waktu ke waktu
  4. Untuk menilai besarnya laba bersih sesudah pajak dengan modal sendiri
  5. Untuk mengukur produktivitas seluruh dana perusahaan yang digunakan baik modal pinjaman maupun modal sendiri
  6. Untuk mengukur produktivitas dari seluruh dana perusahaan yang digunakan baik modal sendiri

Penggunaan rasio profitabilits dapat dilakukan dengan menggunakan perbandingan antara berbagai komponen yang ada di laporan keuangan, terutama laporan keuangan neraca dan laporan laba rugi. Pengukuran dapat dilakukan untuk beberapa periode operasi. Tujuannya adalah agar terlihat perkembangan posisi laporan keuangan perusahaan dalam rentang waktu tertentu, baik penurunan atau kenaikan, sekaligus sebagai evaluasi terhadap kinerja manajemen sehingga dapat diketahui penyebab dari perubahan kondisi keuangan perusahaan tersebut. Semakin lengkap rasio yang digunakan, semakin sempurna hasil yang akan dicapai, sehingga posisi dan kondisi tingkat profitabilitas perusahaan dapat diketahui secara sempurna.

2.1.4.3.         Jenis – jenis Rasio Profitabilitas

      Secara umum ada empat jenis analisis utama yang digunakan untuk menilai tingkat profitabilitas yakni terdiri dari :

  1. Net Profit Margin (NPM)
  2. Return On Assets (ROA)
  3. Return On Equity (ROE)

Namun dari ke empat rasio profitabilitas tersebut, analisis rasio profitabilitas dalam penelitian ini di wakili oleh rasio profitabilitas ini diwakili oleh Net Profit Margin (NPM) , Return On Assets (ROA), Return On Equity (ROE).

1. Net Profit Margin (NPM)

Net Profit Margin (NPM) merupakan perbandingan antara laba bersih dengan penjualan. Rasio ini sangat penting bagi manajer operasi karena mencerminkan strategi penetapan harga penjualan yang diterapkan perusahaan dan kemampuannya untuk mengandilakan beban usaha. Semakin besar Net Profit Margin berarti semakin efisien perusahaan tersebut dalam mengeluarkan biaya – biaya sehubungan dengan kegiatan operasinya.

NPM

2. Return On Assets (ROA)

Return On Assets (ROA) merupakan penilaian profitabilitas atas total assets, dengan cara membandingkan laba setelah pajak dengan rata – rata total aktiva. Return On Assets (ROA) menunjukan efektivitas perusahaan dalam mengelola aktiva baik dari modal sendiri maupun dari modal pinjaman, investor akan melihat seberapa efektif suatu perusahaan dalam mengelola assets. Semakin tinggi tingkat Return On Assets maka akan memberikan efek terhadap volume penjualan saham, artinya tinggi rendahnya Return On Assets akan mempengaruhi minat investor dalam melakukan investasi sehingga akan mempengaruhi volume penjualan saham perusahaan begitu pula sebaliknya.

Secara matematis Return On Assets (ROA) dapat dirumuskan sebagai berikut :

ROA

3. Return On Equity (ROE)

Return On Equity (ROE) merupakan rasio yang digunakan untuk mengukur laba bersih setelah pajak dengan modal sendiri. Rasio ini menunjukan daya untuk menghasilkan laba atas investasi berdasarakan nilai buku para pemegang saham. Semakin tinggu rasio ini, semakin baik, artinya posisi pemilik perusahaan semakin kuat, demikian pula sebaliknya. Return On Equity (ROE) yang tinggi akan dapat mendorong penerimaan perusahaan atas peluang investasi yang baik dan manajemen biaya yang efektif. Hal ini akan mempengaruhi minat para investor untuk melakukan transaksi jual beli saham, sehingga akan meningkatkan volume penjualan saham perusahaan tersebut. Dengan kata lain tingkat Return On Equity (ROE) akan memberikan pengaruh terhadap volume penjualan saham perusahaan.

Formula yang digunakan untuk menghitung Return On Equity (ROE) yakni sebagai berikut :

ROE

2.1.5.      Earning Per Share

2.1.5.1.Pengertian Earning Per Share

      Earning Per Share merupakan bentuk pemberian keuntungan yang diberikan kepada para pemegang saham dari setiap lembar saham yang dimiliki. Earning Per Share merupakan alat analisis yang menggunakan konsep laba konvensional. Earning Per Share adalah salah satu dari dua alat analisis yang sering digunakan untuk mengevaluasi saham biasa disamping Price Earning Ratio dalam lingkungan keuangan.

Menurut (Darmaji, 2006) Earning Per Share merupakan rasio yang menunjukan berapa besar keuntungan (return) yang diperoleh investor atau pemegang saham per lembar.

2.1.5.2. Kegunaan Earning Per Share

Variabel Earning Per Share merupakan proxy bagi laba per saham perusahaan yang diharapkan dapat memberikan gambaran bagi investor mengenai bagian keuntungan yang dapat diperoleh dalam suatu periode keuntungan yang dapat diperoleh dalam suatu periode tertentu dengan memiliki suatu saham. Seorang investor membeli dan mempertahankan saham suatu perusahaan dengan harapan akan memperoleh deviden atau capital gain.

Jumlah pendapatan yang tersedia bagi pemegang saham adalah pendapatan bersih setelah pajak dikurangi pajak pendapatan. Pendapatan bersih ini setelah dikurangi dengan deviden dan hak – hak lainnya untuk pemegang saham biasa. Dengan membagi jumlah pendapatan yang tersedia untuk pemegang saham biasa dengan jumlah lembar saham biasa yang beredar maka akan diketahui jumlah lembar pendapatan untuk setiap lembar saham tersebut.

Earning per share dihitung dengan rumus berikut (Darmadji: 2006)

EPS 

2.1.6.      Nilai tukar

2.1.6.1.Pengertian Nilai Tukar

Nilai kurs adalah suatu nilai tukar mata uang asing terhadap mata uang Negara lain. Nilai tukar tersebut sebenarnya merupakan semacam harga dalam pertukaran tersebut. Demikian pula pertukaran dua mata uang yang berbeda dimana akan terdapat perbandingan nilai atau harga antara kedua mata uang tersebut. Perbandingan nilai inilah yang disebut kurs.

Kurs valuta adalah harga satu unit valuta yang ditunjukan dalam valuta lain. Nilai tukar rupiah terdahap dollar AS merupakan harga satu satuan dollar AS yang dinilai ke dalam satuan rupiah.

Valuta asing atau foreign exchange, secara tipikal merupakan mata uang asing dan bukan sesuatu yang legal tender pada Negara lain. Oleh karena itu, penerimaan devisa dari kegiatan ekonomi internasional perlu dikonversikan dengan mata uang domestic agar dapat diterima sebagai alat tukar terhadap barang dan jasa di luar Negara pencetaknya. Dengan demikian timbul suatu usaha untuk bisa menukar valas tersebut dengan mata uang local agar dapat ditukarkan dengan barang atau jasa di Negara tersebut (Hadi,2001)

2.1.7.      Perbankan Indonesia

2.1.7.1.Pengertian Bank Indonesia

      Bank Indonesia adalah bank sentral Republik Indonesia. Sebagai Bank Sental, BI mempunyai satu tujuan tunggal, yaitu mencapai dan memelihara kestabilan nilai rupiah. Kestabilan nilai rupiah ini mengandung dua aspek, yaitu kestabilan nilai mata uang terhadap barang dan jasa, serta kestabilan terhadap mata uang Negara lain (www.wikipedia.com).

Untuk mencapai tujuan tersebut BI di dukung oleh tiga pilar yang merupakan tiga bidang tugasnya. Ketiga bidang tugas ini adalah menetapkan dan melaksanakan kebijakan moneter, mengatur dan menjaga kelancaran sistem pembayaran, serta mengatur dan mengawasi perbankan di Indonesia. Ketiganya perlu diintergrasi agar tujuan mencapai dan memelihara kestabilan nilai rupiah dapat dicapai secara efektif dan efisien. (www.wikipedia.com).

2.1.7.2. Tugas dan Fungsi Bank Indonesia

            Dalam kapasitasnya sebagai bank sentral, Bank Indonesia mempunyai satu tujuan tunggal, yaitu mencapai dan memlihara kestabilan nilai rupiah. Kestabilan nilai rupiah ini mengandung dua aspek, yaitu kestabilan nilai mata uang terhadap barang dan jasa, serta kestabilan terhadap mata uang Negara lain (www.wikipedia.com).

Aspek pertama tercermin pada perkembangan laju inflasi, sementara aspek kedua tercermin pada perkembangan nilai tukar rupiah terhadap mata uang Negara lain. Perumusan tujuan tunggal ini dimaksudka untuk memperjelas sasaran yang harus dicapai Bank Indonesia serta batas – batas tanggung jawabnya. Dengan demikian, tercapai atau tidaknya tujuan Bank Indonesia ini kelak akan dapat diukur dengan mudah. (www.bi.go.id).

Tingkat suku bunga yang rendah akan mendorong pertumbuhan ekonomi di sector rill ke arah yang lebih baik. Meskipun Bank Indonesia secara bertahap sudah menurunkan tingkat diskonto SBI, hingga saat ini perbankan nasional masih belum mengikutinya dengan penurunan suku bunga kredit. (Peni Sawitri, Eko Hartanto,2007)

2.1.7.3. Pengertian dan Fungsi Bank Umum

            Bank Umum adalah lembaga keuangan yang tujuannya utamanya adalah mencari keuntungan. Keuntungan adalah selisih antara pendapatan dan biaya. Pendapatan diperoleh dari hasil kegiatan, berupa pemberian pinjaman dan pembelian surat – surat berharga, sedangkan biaya berupa pembayaran bunga dan biaya – biaya lainnya.

Sistem perbankan merupakan suatu kesatuan organisasi yang terbentuk karena adanya proses interkoneksi diantara instrument perbankan, pasar uang dan institusi perbankan. Didalam proses interkoneksi industri perbankan bertindak sebagai pelaksana yang mengatur dan mengendalikan instrument perbankan dan pasar uang.

      2.2.      Kajian Penelitian Sejenis

No Nama Peneliti Judul Penelitian Variabel Teknik Analisis Hasil Penelitian
1. Hartono dan Parulian Sitohang (2008) Analisis Hubungan Profitabilitas dengan Pergerakan Saham pada Sektor Usaha Perbankan di Bursa Efek Indonesia (BEI) Variabel dependen : pergerakan harga saham

Variabel independen : NPM, ROA, ROE

Hasil penelitian menunjukan bahwa hanya resiko ROE saja yang memberikan pengaruh yang cukup signifikan terhadap pergerakan harga saham. Sedangkan rasio lainnya yaitu rasio NPM dan ROA tidak memberikan pengaruh yang signifikan terhadap pergerakan harga saham.
2. Indah Nurmalasari (2009) Analisis Pengaruh Rasio Profitabilitas terhadap Harga Saham Emiten LQ45 yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia tahun 2005-2008 Variabel dependen : harga saham

Variabel independen : ROA, ROE, NMP, EPS

Hasil penelitian menunjukan bahwa variabel Return On Assets (ROA) dan Earning Per Share (EPS) berpengaruh terhadap harga saham serta parsial dengan tingkat signifikan (0,000 dan 0,004). Sedangkan rasio keuangan lainnya tidak berpengaruh. Untuk rasio keuangan yang terdiri dari NPM, ROE, ROI, dan EPS berpengaruh secara bersama – sama terhadap harga saham pada tahun 2005-2008
3. Yopi Atul Improh Atik (2012) Pengaruh Inflasi, Nilai Tukar dan Tingkat Suku Bunga SBI terhadap Harga Saham Perbankan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) Variabel dependen : harga saham

Variabel independen : Inflasi, Nilai Tukar, Tingkat Suku Bunga SBI

ba sedangkan sisanya yaitu 41% harga saham perbankan dipengaruhi oleh variabel – variabel lainnya yang tidak diteliti dalam penelitian ini.
4. Boris Brahmono (2007) Pengaruh Faktor –faktor Makroekonomi terhadap Harga Saham (studi kasus pada PT. Bank Mandiri) Variabel dependen : harga saham

Variabel independen : inflasi, kurs rupiah, SBI 3 bulan, uang beredar (m2)

Hasil penelitian menunjukan hubungan antara variabel terikat dan variabel bebas secara simultan yang menghasilkan keempat variabel bebas tersebut berpengaruh secara nyata terhadap harga saham. Dari pengolahan data variabel bebas secara parsial diperoleh hasil yaitu inflasi tidak berpengaruh terhadap harga saham sedangkan kurs rupiah, SBI 3 bulan dan uang beredar (m2) berpengaruh secara nyata terhadap harga saham.
5. Robby Suryawan Agung Pengaruh Tingkat Suku Bunga SBI, nilai tukar mata uang dan tingkat inflasi terhadap perubahan harga saham perbankan di Bursa Efek Indonesia Variabel dependen : harga saham

Variabel independen : tingkat suku bunga SBI, nilai tukar mata uang dan tingkat inflasi

Hasil penelitian regresi linier berganda menunjukan variabel suku bunga SBI memiliki pengaruh positif terhadap harga saham sub sektor perbankan di Bursa Efek Indonesia. Sedangkan variabel nilai tukar rupiah terhadap US Dollar dan tingkat inflasi memiliki pengaruh negatif terhadap harga saham sub sektor perbankan di Bursa Efek Indonesia. Pada pengujian secara parsial menunjukan hanya variabel nilai tukar rupiah terhadap US Dollar saja yang memiliki pengaruh secara signifikan terhadap harga saham sedangkan variabel suku bunga SBI serta tingkat inflasi tidak berpengaruh secara signifikan. Pengujian secara bersama –sama (simultan) menunjukan keseluruhan variabel independen memberikan pengaruh terhadap variabel dependen.
6. Asep Saepudin (2012) Pengaruh rasio profitabilitas dan invesment opportunity set (IOS) terhadap harga saham pada perusahaan yang terdaftar di BEI Variabel dependen : harga saham

Variabel independen : ROA, ROE, NPM dan PER

Berdasarkan hasil uji korelasi diketahui bahwa ROA, ROE dan NPM memiliki korelasi positif terhadap harga saham, sedangkan PER memiliki korelasi negatif terhadap harga saham. Hasil uji simultan diketahui bahwa ROA, ROE, NPM dan PER secara bersama – sama mempunyai pengaruh secara signifikan terhadap harga saham. Dari hasil regresi berganda, diketahui bahwa ROA dan NPM memiliki nilai yang positif terhadap harga saham, sedangkan ROE dan PER memiliki nilai yang negatif terhadap harga saham. Hasil uji-t secara parsial ROA berpengaruh terhadap harga saham sedangkan ROE, NPM dan PER tidak berpengaruh terhadap harga saham

 

 

 

BAB III

METODE PENELITIAN

      3.1.      Objek Penelitian

Objek penelitian dalam penulisan ini adalah 10 perusahaan perbankan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) periode 2008 – 2012

Tabel 3.1

Daftar Nama Bank

No

Nama Bank

Kode

1.

PT. Bank Central Asia Tbk. BBCA

2.

PT. Bank Rakyat Indonesia Tbk. BBRI

3.

PT. Bank Negara Indonesia Tbk. BBNI

4.

PT. Bank Mandiri Tbk. BMRI

5.

PT. Bank Danamon Tbk. BDMN

6.

PT. Bank OCBC NISP Tbk NISP

7.

PT. Bank Permata Tbk BNLI

8.

PT. Bank Internasional Indonesia Tbk. BNII

9.

PT. Bank Tabungan Pensiunan Nasional Tbk. BTPN

10.

PT. Bank CIMB NIAGA Tbk. BNGA

 

      3.2.      Data / Variabel Yang Digunakan

Penelitian ini meliputi variabel independent (variabel bebas) yang terdiri dari variabel X1 yaitu Return On Assets, X2 yaitu Return On Equity, X3 yaitu Net Profit Margin, X4 yaitu Inflasi, X5 yaitu Suku Bunga. Variabel dependent (variabel terikat) penelitian ini yang disimbolkan dengan Y yaitu harga saham. Untuk data rasio profitabilitas dan harga saham didapat dari situs www.idx.go.id dan www.yahoofinance.com sedangkan untuk data inflasi dan suku bunga di dapat dari situs www.bi.go.id

3.2.1.      Kerangka Pemikiran

Secara umum dan sederhana kerangka pemikiran penelitian ini dapat di gambarkan sebagai berikut :

KERANGKA PEMIKIRAN 

Tabel 3.2

Operasional Variabel

 

Variabel

Indikator

Skala pengukuran data

(X1)

Return On Assets (ROA)

Rasio perbandingan antara laba setelah pajak dengan total aset

Rasio

(X2)

Return On Equity (ROE)

Rasio perbandingan antara laba setelah pajak dengan modal sendiri

Rasio

(X3)

Net Profit Margin (NPM)

Rasio perbandingan antara laba bersih setelah pajak dengan pendapatan dengan

Rasio

(X4)

Earning Per Share (EPS)

Perbandingan antara laba bersih setelah pajak dengan jumlah saham yang beredar

Rupiah

(X5)

Nilai Tukar

Kurs tengah tahunan (middle rate) dari laporan BI

Rupiah

(Y)

Harga Saham

Harga suatu saham pada pasar yang sedang berlangsung

Rupiah

 

      3.3.      Metode Pengumpulan Data

Untuk mendapatkan data atau informasi yang akurat dan lengkap sebagai acuan penulisan ilmiah ini maka penulis menggunakan metode penelitian kepustakaan. Penelitian ini menggunakan data sekunder yang dilakukan dengan cara mengumpulkan data dengan mempelajari buku-buku, literature-literatur, informasi dari internet, media masa dan instansi lainnya yang membahas teori dan informasi yang berhubungan dengan penelitian yang dilakukan.

      3.4.      Hipotesis

Hipotesis yang digunakan dalam penelitian ini adalah :

  • Hipotesis

Ho : di duga tidak ada pengaruh rasio profitabilitas, EPS dan Nilai Tukar terhadap harga saham perbankan

Ha : di duga ada pengaruh rasio profitabilitas, EPS dan Nilai Tukar terhadap harga saham perbankan

      3.5.      Alat Analisis Yang Digunakan

Untuk menganalisis hubungan variabel ROA, ROE, NPM, Inflasi dan Suku Bunga terhadap perubahan harga saham dalam penelitian ini menggunakan teknik analisis regresi linier berganda. Analisis linier berganda adalah analisis besarnya hubungan dan pengaruh variabel independen yang jumlahnya lebih dari dua (Suharyadi & Purwanto, 2004) adapun persamaan regresi berganda dituliskan

Y = a+b1X1+b2X2+b3X3+b4X4+b5X5+e

Keterangan :

Y                                 = Harga Saham

X1                                = ROA

X2                                = ROE

X3                                = NPM

X4                                = EPS

X5                                = Nilai Tukar

a                                  = Nilai konstanta

b1,b2,b3,b4,b5                = Koefisien korelasi X1, X2, X3, X4, X5

e                                  = besaran nilai residu (standar error)

3.5.1.      Uji Asumsi Klasik

Model regresi yang diperoleh dari model OSL merupakan model regresi yang menghasilkan estimator linier tidak bias yang terbaik (Best Linier Unbias Estimator / BLUE) (Imam Ghozali, 2009).

Kondisi akan terjadi apaila memnuhi beberapa asumsi klasik seperti normalitas, tidak ada multikolinearitas yang sempurna antar variabel bebas, tidak ada autokorelasi dan heterokedastisitas.

3.5.1.1.  Uji Normalitas

Pengujian ini dilakukan untuk melihat apakah sebaran data yang ada terdistribusi secara normal atau tidak. Pengujian ini dilakukan dengan menggunakan analisis grafik histrogram dan normal plot.

Pada analisis histogram bila grafik normal plot menunjukan data menyebar disekitar garis diagonal dan mengikuti garis diagonal maka dapat disimpulkan bahwa model regresi linier berganda memenuhi asumsi normalitas. Data dikatakan berdsistribusi normal jika signifikasi untuk variabel yang dianalisis memiliki nilai signifikansi (P-Value lebih besar dari 0,05 (5%).

Analisis Statistik, untuk mendieteksi normalitas data dapat dilakukan pula melalui statistik yang salah satunya dapat dilihat melalui Kolmogorov-Smirnov test (K-S). Uji K-S dilakukan dengan membuat hipotesis :

Ho   = Data residual terdistribusi normal

Ha   = Data residual tidak terdistribusi normal

Dasar pengambilan keputusan dalam uji K-S adalah sebagai berikut :

  1. Apabila probabilitas nilai Z uji K-S signifikan secara statistik maka Ho ditolak, yang berarti data terdistribusi tidak normal.
  2. Apabila probabilitas nilai Z uji K-S signifikan secara statistik maka Ho ditolak, yang berarti data terdistribusi tidak normal.

3.5.1.2.  Uji Multikolinearitas

Uji multikolinearitas bertujuan untuk menguji apakah model regresi ditemukan adanya korelasi antar variabel bebas (independen). Jika variabel bebas saling berkorelasi, maka variabel – variabel ini tidak orthogonal. Variabel orthogonal adalah variabel bebas yang nilai korelasi antar sesama variabel bebas sama dengan nol (Imam Ghozali, 2009)

Akibat bagi model regresi yang mengandung multikolinearitas adalah bahwa kesalahan standar estimasi akan cenderung mengikat dengan bertambahnya variabel bebas, tingkat signifikasi yang digunakan untuk menolak hipotesis nol akan semakin besar dan probabilitas akan menerima hipotesis yang salah juga akan semakin besar (Imam Ghozali, 2009)

Untuk menditeksi ada atau tidaknya gejala multikolinearitas didalam model regresi adalah sebagai berikut:

  1. Nilai R2 yang dihasilkan oleh suatu estimasi model regresi empiris sangat tinggi, tetapi secara individual variabel – variabel bebas banyak yang tidak signifikan mempengaruhi variabel terikat.
  2. Menganalisis matrik korelasi antar variabel bebas. Jika ada korelasi yang cukup tinggi, maka di dalam model regresi tersebut terdapat multikolinearitas.
  3. multikolinearitas digunakan varience inflation factor (VIF) dan nilai tolerance. Jika nilai VIF dibawah 10, maka model regresi yang diajukan tidak terdapat gejala multikolinearitas, sebaliknya jika VIF di atas 10, maka model regresi yang diajukan terdapat gejala multikolinearitas, disamping juga harus melihat nilai tolerance yang mendekati 1.

3.5.1.3.  Uji Heterokedastisitas

Uji heterokedastisitas bertujuan menguji apakah dalam model regresi terjadi ketidaksamaan varians dan residual satu pengamatan ke pengamatan lain. Heterokedastisitas terjadi apabila variabel gangguan tidak mempunyai varians yang sama untuk semua observasi. Model regresi yang baik adalah yang homokedastisitas atau tidak terjadi heterokedastisitas. Cara untuk menditeksi ada tidaknya heterokedastisitas adalah dengan melihat grafik Plot antara nilai prediksi variabel terikat (ZPRED) dengan residual (SRESID). Jika ada pola tertentu, seperti titik – titik yang ada membentuk pola tertentu yang teratur (bergelombang, melebar kemudian menyempit), maka mengindikasi telah terjadi heterokedastisitas, jika tidak ada pola yang jelas, serta titik titik menyebar diatas dan dibawah angka nol pada sumbu Y maka tidak terjadi heterokedastisitas.

3.5.1.4. Uji Autokorelasi

Uji Autokorelasi bertujuan menguji apakah dalam suatu model regresi linear ada korelasi antara kesalahan penganggu pada periode t dengan kesalahan pada periode t-1 dalam data time series yang digunakan. Uji autokorelasi diguanakan karena periode observasi yang berurutan sepanjang waktu berkaitan satu dengan lainnya (Imam Ghozali, 2009). Untuk mendeteksi ada atau tidaknya autokorelasi dalam suatu model penelitian dapat menggunakan Uji Durbin Watson. Uji Durbin Watson ini hanya digunakan untuk autokorelasi tingkat satu (first order autocorrelation) dan mensyaratkan adanya intersep dalam model regresi dan tidak ada variabel lagi diantara variabel pejelas.

Hipotesis yang diuji adalah :

Ho : tidak ada gejala autokorelasi positif pada model (r = 0)

Ha : ada gelaja autokorelasi positif pada model (r≠ 0)

Keputusan ada tidaknya autokorelasi menurut (Imam Ghozali, 2009) adalah :

  • 0 < d < dl, artinya tidak ada autokorelasi positif maka Ho ditolak
  • dl ≤ d  ≤ du, artinya tidak ada autokorelasi positif, maka tidak terdapat keputusan
  • 4 – du < d < 4, tidak ada korelasi negatif, maka Ho ditolak
  • 4 – du ≤ d ≤ 4 – dl, tidak ada korelasi negatif, maka tidak terdapat keputusan.
  • Du < d < 4 – du, menerima Ho, artinya tidak terdapat autokorelasi, maka Ho diterima.

3.5.2.      Pengujian Hipotesis

Pengujian hipotesis dilakukan dengan analisis statistik regresi berganda, yang terdiri dari Uji t untuk menguji hipotesis antara satu variabel independen dengansatu variabel dependen. Uji f untuk menguji hipotesis antara lebih dari satu variabel independen terhadap satu variabel dependen.

3.5.2.1.  Koefisien Determinasi (R2)

Koefisien determinasi (R2) pada intinya mengukur seberapa jauh kemampuan model dalam menerangkan variasi variabel – variabel dependen. Nilai koefisien determinasi adalah nol sampai satu. Nilai R2 yang kecil berarti kemempuan variabel – variabel independen dalam menjelaskan variasi dependen amat terbatas. Nilai yang mendekati satu berarti variabel – variabel independen memberikan hampir semua informasi ygn dibutuhkan untuk memprediksi variasi variabel dependen. Secara umum koefisien determinasi untuk data silang (crossection) relatif rendah karena adanya variasi yang besar antara masing – masing pengamatan, sedangkan untuk data runtun tahun waktu (time series) biasanya mempunyai koefisien determinasi yang tinggi.

3.5.2.2.  Uji Signifikansi Simultan (Uji Statistik f)

Uji f adalah uji yang dilakukan untuk membuktikan pengaruh variabel – variabel bebas (X) secara bersama – sama terhadap variabel terikat (Y). Nilai F hitung dapat dicari dengan rumus berikut :

F hitung  =

Keterangan :

R2        = koefisien determinasi

k          = banyaknya variabel independen

n          = banyaknya anggota sampel

kriteria prngambilan keputusan pada taraf signifikan (α) = 5% dengan derajat kebebasan (df) k dan (n-k-1) adalah sebagai berikut:

jika F hitung <  F tabel berarti Ho diterima dan Ha ditolak.

Jika F hitung > F tabel berari Ho ditolak dan Ha diterima

3.5.2.3.  Uji Signifikansi Parsial (Uji Statistik t)

Untuk mengetahui seberapa besar pengaruh variabel independen secara individu diukur dengan menggunakan uji t-statistik. Nilai t-statistik hitung dapat dicari dengan rumus :

t hitung =

pengujian ini dilakukan untuk mengukur tingkat signifikansi atau keberartian setiap variabel bebas (X) terhadap variabel terikat (Y) dalam model regresi. Pada taraf signifikasi (α) = 5% dan derajat kebebasan atau degree of freedom (df) = n-k-1 yang mana n adalah jumlah sampel dan k adalah banyak nya variabel independen, maka akan diperoleh besarnya nilai t tabel. Selanjutnya pengujian t-statistik dilakukan dengan uji satu sisi. Adapun ketentuannya sebagai berikut :

kriteria pengujian :

  1. Ho ditermia dan Ha ditolak apabila t hitung < t tabel, artinya variabel independen tidak berpengaruh secara signifikan terhadap variabel dependen.
  2. Ho ditolak dan Ha diterima apabila t hitung > t tabel artinya variabel independen berpengaruh secara signifikan terhadap variabel dependen.

Alternatif lain untuk melihat perngaruh secra parsial adalah dengan melihat nilai signifikansinya,

  • Apabila nilai signifikansi yang terbentuk < 0,05 maka terdapat pengaruh yang signifikan variabel independen secara parsial terhadap variabel dependen.
  • Apabila nilai signifikansi yang terbentuk > 0,05 maka tidak terdapat pengaruh yang signifikan variabel independen secara parsial terhadap variabel dependen.

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Anoraga, Panji dan Pakarti, Piji. (2001). Pasar Modal, Keberadaan dan Manfaatnya Bagi Pembangunan. Jakarta : PT. Rineka Cipta.

David, Fred R. (2003). Strategic Management: Cocepts, Ninth Edition. New Jersey: Prentice Hall.

Ghozali, Imam. (2009). Aplikasi Analisis Multivariate dengan Program SPSS. Semarang: BP – UNDIP.

Hadi, H. (2001). Forex for Managers. Jakarta : PT. Ghalia Indonesia.

Harsono, Budi. (2013). Efektif Bermain Saham. Jakarta: PT. Elex Media Komputindo Kompas Gramedia.

Hartono dan Sitohang, Parulian. (2008). Analisis Profitabilitas dengan Pergerarakan Harga Saham pada Sektor Perbankan di Bursa Efek Indonesia. Jurnal. Universitas Bina Nusantara. Jakarta.

http://id.wikipedia.org/wiki/Bank_Indonesia. Diakses Maret 2013

Kasmir. (2004). Bank dan Lembaga Keuangan Lainnya. Edisi 6. Jakarta: Penerbit Raja Grafindo Persada.

Kasmir. (2008) Manajemen Perbankan. Edisi 1, Cetakan ke-3 PT. Raja Grafindo Persada. Jakarta.

Natarsyah, Syahib. (2000). Analisis Pengaruh Beberapa Faktor Fundamental dan Risisko Sistematik Terhadap Harga Saham (Kasus Indusri Barang Konsumsi yang Go Publik di Pasar Modal Indonesia). Jurnal Ekonomi dan Bisnis Indonesia. Vol.15, No. 3 pp. 294-312

Peri Sawitri dan Eko Hartanto, (2007). Bank dan Lembaga Keuangan Lainnya. Universitas Gundarma. Edisi Pertama. Jakarta.

Tjiptono, Darmadji. (2006). Pasar Modal di Indonesia: Pendekatan Tanya Jawab. Edisi Kedua, Jakarta: Salemba Empat.

Zulbekti, Rita. (2010). Pengaruh Rasio – Rasio Camel dan Faktor  – faktor Makroekonomi Terhadap Return Saham. Jurnal Banking and Management Review.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s